Langsung ke konten utama

Merpati

Dari kejauhan ku lihat ia disebrang sana.
Hinggap dari satu tempat ke tempat lain.
Ia sangat menikmati waktunya.
Ia bebas berkunjung dan terbang kemana saja, sesuka hatinya.
Pernah ku coba mendekatinya,
Perlahan tapi pasti.
Diam diam ku menuju ketempatnya.
Ia nampak cantik dilihat dari dekat, jauh lebih cantik dari sebelumnya.
Namun sial, ia tersadar akan keberadaanku.
Lalu apa yang terjadi?
Apalagi, selain ia terbang menjauh dariku.

. . .

Lalu pernah ku lihat ia berada ditempat sebelumnya.
Lagi-lagi hal yang dilakukannya sama.
Terbang dari tempat satu ketempat lainnya.
Namun kali ini, aku berbeda.
Aku tak berkeinginan untuk mendekatinya.
Bukan berarti tak mau dekat dengannya.
Hanya saja, aku merasa ia jauh lebih menikmati waktunya.
Waktu dimana ia bisa terbang bebas dan hinggap dari tempat satu ke tempat lainnya.
Aku bukan tak mau berada disekitarnya.
Aku hanya takut menganggunya.

. . .

Tiba tiba, darinya aku teringat sesuatu.
Sesuatu yang mungkin kalian tahu.

. . .

Wahai merpati, nikmatilah waktumu.
Terbanglah dengan gemulai kemana saja yang kamu mau.
Hinggaplah di tempat-tempat indah, dan ciptakan momenmu.
Aku disini, dari kejauhan, sangat menikmati keindahanmu.
Gemulai sayapmu, dan cantiknya dirimu saat engkau terbang diatas sana.

. . .

Wahai merpati,
Ciptakanlah momen bahagiamu.
Ketahuilah, kamu terlihat lebih mempesona saat kamu berbahagia.
Kilaumu, gemulai sayapmu, indahmu,  membuatku ingin menjadi bagian dari hal yang membahagiakan dan menyenangkanmu.

- dari aku, jingga yang senang mempuisikanmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Last Meeting Theory

  Last Meeting Theory   Kata orang, kita tidak akan pernah tahu kapan sebuah pertemuan akan menjadi yang terakhir kalinya. Theori itu seolah menampar kehidupanku satu per satu. Ia, pertemuan terakhir- tak pernah datang dengan aba-aba, tetapi ia datang selayaknya hari biasa, -yang kemudian menjadi penyesalan yang luar biasa .       Bagian Satu, Mama. Tahun lalu, saat Ramadhan aku pulang. Ku pikir, itu akan cukup untuk menggantikan momen lebaran.   Ku pikir, tiga hari menghabiskan waktu bersama akan cukup untuk mengisi rindu. Ku tawari dia ini dan itu, namun ia tak mau. Ku turuti maunya, lalu kembali pulang -ke rantauan, sambil membawa ijin akan sebuah hobi, yang tadinya tak ia percayai.                             Andai aku tahu bahwa itu lebaran terakhir bersamanya,       ...

Jingga dan senja, adalah kolaborasi yang sempurna.

Kamu tahu jingga? Iya,  jingga adalah warna yang ceria. Warna yang melambangkan kehangatan, kenyamanan dan persahabatan. Setidaknya begitulah arti jingga bagi kebanyakan orang. Namun bagiku,  jingga lebih lengkap dari itu. . . . Dalam jingga,  aku tidak hanya melihat beribu keceriaan, namun juga sejuta senyuman. Olehnya,  orang yang memperhatikannya,  ia tarik kedalam kebahagian, ia ajarkan caranya memberikan senyuman. Perihal kehangatan dan kenyamanan,  jingga dan senja memang juara.  Warna merah yang bercampur kuning itu,  mampu menghipnotisku. Membuatku merasa nyaman dan tentram ketika menikmatinya. Sedangkan tentang tersahabatan, jingga memang sudah lama bersahabat denganku. Dari sebelum aku tahu,  apa sebenarnya jingga itu. ... Berbeda dengan jingga,  senja memiliki arti yang begitu luas bagi orang-orang. Ada yang menilainya romantis,  melankolis, juga puitis. ... Senja,  adalah penghantar dari siang menuju malam...

Goresan pena

Jakarta, 31 maret 2019. Tahun kedua di part merantau yg kedua kalinya. Haha . Part kedua.. macam film terkenal yg naik daun lalu membuat bagian² lainnya. Merantau kali ini kalau di ingat², sebenarnya saya merasa bahwa kali ini adalah merantau yg sesungguhnya. Bagaimana tidak? Saya pernah berfikir bahwa merantau kali ini akan jauh lebih mudah dari sebelumnya. Karena saya fikir saya punya tempat untuk bernaung. Tidak perlu saya memikirkan biaya kost, bagaimana atur keuangan untuk makan dan transportasi, atau hal² serupa. Karena saya punya tempat bernaung, dan saya punya tempat bergantung. Begitu pikir saya dahulu. Dan ternyata, semua jauh dari perkiraan saya. Saya lupa, bahwa dari dulu saya tidak pernah membiarkan diri saya untuk menggantungkan diri pada orang lain. Sebab saya tahu, pasti akan sakit rasanya. Dan benar saja, kejadian demi kejadian terjadi. Dan saya ditinggalkan sendiri. Dengan keadaan yg benar² saya benci, saya dibiarkan sendiri. Menjadi seorang y...