Langsung ke konten utama

Waktu Silih berganti, Dia pun Kelak Akan Pergi

 Bagaimana?

apa sudah cukup galau saat membaca judulnya?

hehe

Tenang saja, tulisan ini dibuat bukan untuk membuatmu galau atau menjadi sedih.

Melainkan sebaliknya.

Tulisan ini dibuat untuk membuatmu menjadi sadar akan hal yang sebenarnya terjadi.

Sejujurnya, bukan hanya Kamu.

Tapi juga Aku, dan orang-orang yang sama seperti Kita.

Sama dalam hal apa?


sama dalam hal menyalahkan diri sendiri.


Aku tahu disana kamu pasti pernah meluangkan waktu untuk berfikir;

"Apa salahku? mengapa Dia pergi?"

"Mengapa Dia meninggalkanku?"

"Mengapa tiba-tiba Dia menjauhiku?"

dan hal-hal lain yang nantinya akan menimbulkan beberapa pertanyaan dan penyataan

yang pada akhirnya membuatmu menyalahkan dirimu sendiri.


Dengarlah,

Waktu silih berganti, dan nantinya Dia pun akan pergi.

Kamu harus siap pada kenyataan bahwa nantinya kamu akan ditingalkan, atau meninggalkan.

Tak ada yang abadi, bahkan bayanganmu sendiri akan pergi pada waktunya,

yahh.. walaupun dia akan kembali lagi juga pada akhirnya.

Namun dari sini kita tahu, bahwa memang tak akan ada yang selalu berada disisimu, 

selain dirimu sendiri.


Jadi, jika suatu saat ada yang pergi dari hidupmu.

Percayalah, itu bukan salahmu.

Kamu tidak kurang sedikitpun.

Kamu tidak memiliki kewajiban untuk selalu menyalahkan dirimu sendiri.


Anggap saja, ini memang sudah waktunya.

Sudah saatnya untuk Dia pergi,

dan sudah saatnya untuk Kamu berjalan keluar mencari hal baru.


Kamu boleh memikirkan apa yang salah dari yang telah berlalu,

apa yang kurang dari segala sikap dan perlakuanmu.

Tapi jadikanlah hal tersebut untuk membuatmu menjadi lebih baik dikemudian hari.

Bukan membuatmu terpuruk dan selalu merenungi tentang kesedihan hari ini.


Kamu tahu?

Kamu berharga dan berhak bahagia.

Di luar sana banyak kebahagiaan yang menantimu.

Jangan biarkan mereka menunggu terlalu lama.

Mari bangkit, dan berjalanlah.


                                                                                        ' 26 mei, 2021.

                                                                    dari  Aku yang pada akhirnya percaya pada diriku sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Last Meeting Theory

  Last Meeting Theory   Kata orang, kita tidak akan pernah tahu kapan sebuah pertemuan akan menjadi yang terakhir kalinya. Theori itu seolah menampar kehidupanku satu per satu. Ia, pertemuan terakhir- tak pernah datang dengan aba-aba, tetapi ia datang selayaknya hari biasa, -yang kemudian menjadi penyesalan yang luar biasa .       Bagian Satu, Mama. Tahun lalu, saat Ramadhan aku pulang. Ku pikir, itu akan cukup untuk menggantikan momen lebaran.   Ku pikir, tiga hari menghabiskan waktu bersama akan cukup untuk mengisi rindu. Ku tawari dia ini dan itu, namun ia tak mau. Ku turuti maunya, lalu kembali pulang -ke rantauan, sambil membawa ijin akan sebuah hobi, yang tadinya tak ia percayai.                             Andai aku tahu bahwa itu lebaran terakhir bersamanya,       ...

Jingga dan senja, adalah kolaborasi yang sempurna.

Kamu tahu jingga? Iya,  jingga adalah warna yang ceria. Warna yang melambangkan kehangatan, kenyamanan dan persahabatan. Setidaknya begitulah arti jingga bagi kebanyakan orang. Namun bagiku,  jingga lebih lengkap dari itu. . . . Dalam jingga,  aku tidak hanya melihat beribu keceriaan, namun juga sejuta senyuman. Olehnya,  orang yang memperhatikannya,  ia tarik kedalam kebahagian, ia ajarkan caranya memberikan senyuman. Perihal kehangatan dan kenyamanan,  jingga dan senja memang juara.  Warna merah yang bercampur kuning itu,  mampu menghipnotisku. Membuatku merasa nyaman dan tentram ketika menikmatinya. Sedangkan tentang tersahabatan, jingga memang sudah lama bersahabat denganku. Dari sebelum aku tahu,  apa sebenarnya jingga itu. ... Berbeda dengan jingga,  senja memiliki arti yang begitu luas bagi orang-orang. Ada yang menilainya romantis,  melankolis, juga puitis. ... Senja,  adalah penghantar dari siang menuju malam...

Goresan pena

Jakarta, 31 maret 2019. Tahun kedua di part merantau yg kedua kalinya. Haha . Part kedua.. macam film terkenal yg naik daun lalu membuat bagian² lainnya. Merantau kali ini kalau di ingat², sebenarnya saya merasa bahwa kali ini adalah merantau yg sesungguhnya. Bagaimana tidak? Saya pernah berfikir bahwa merantau kali ini akan jauh lebih mudah dari sebelumnya. Karena saya fikir saya punya tempat untuk bernaung. Tidak perlu saya memikirkan biaya kost, bagaimana atur keuangan untuk makan dan transportasi, atau hal² serupa. Karena saya punya tempat bernaung, dan saya punya tempat bergantung. Begitu pikir saya dahulu. Dan ternyata, semua jauh dari perkiraan saya. Saya lupa, bahwa dari dulu saya tidak pernah membiarkan diri saya untuk menggantungkan diri pada orang lain. Sebab saya tahu, pasti akan sakit rasanya. Dan benar saja, kejadian demi kejadian terjadi. Dan saya ditinggalkan sendiri. Dengan keadaan yg benar² saya benci, saya dibiarkan sendiri. Menjadi seorang y...