Langsung ke konten utama

Pulang

Sejatinya, setiap yang pergi pasti akan segera kembali. Jika memang sudah ditakdirkan untuk kembali.

. . .

Kemanakah akhir dari perjalanan jauh kita?

. . .

Sebuah pertanyaan sederhana, namun penuh makna.

. . . .

Kita berjalan, berlari, merangkak, ber-mil-mil jauhnya.. Kemanakah akhir dari tujuan jalan kita? Kemanakah akhir dari semua perjalanan panjang ini? 

. . . 

Rumah..

Mungkin itulah jawabannya..

. . . 

Rumah, dari segala rumah..
Rumah, tempat tinggal kita yang sesungguhnya..

. . .

Pulang,  adalah sesuatu yang pasti, meski mungkin tidak selalu dinanti..

Jika kau tanya, apakah aku menantinya?
Akupun tidak tahu apa jawabnya.
Sebab mungkin,  diri ini menanti. Tetapi nanti. .

. . .

Nanti..

. . .

Kenapa nanti?? 

. . .

Ada beberapa alasan yang sering di lontarkan oleh orang sepertiku, dan mungkin juga seperti dirimu..
Salah satunya adalah, kesiapan..
Padahal sejatinya, memang tidak ada manusia yang benar-benar siap untuk pulang, kembali ke rumah yang sesungguhnya.
Kita selalu merasa kurang bekal, tapi sayangnya, kita tidak pernah bersungguh-sungguh dalam menyiapkan bekal tersebut..

. . . 

Pulang...

Mungkin kita semua lupa, bahwa tidak semua ke-pulang-an didasarkan atas kemauan..
Mungkin kita semua lupa,  bahwa terkadang saja, ibu kita suka memaksa, untuk kita pulang, kembali kerumah..
Dan mungkin kita semua lupa, bahwa diluar sana, banyak mereka yang telah pulang, meski selalu berkata nanti, dan merasa belum memiliki bekal yang cukup untuk mereka kelak, saat pulang nanti..

. . .

Pulang...

Aku pasti akan segera pulang, cepat atau lambat.. Siap atau pun tidak siap.. Saat aku berkata nanti, ataupun hari ini.

Sebab kepulanganku, tidak terletak atas kemauan dan kehendaku sendiri.  Tetapi sudah digariskan, dan dituliskan olehNya. Sang Penulis Ketetapan Terindah :)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Last Meeting Theory

  Last Meeting Theory   Kata orang, kita tidak akan pernah tahu kapan sebuah pertemuan akan menjadi yang terakhir kalinya. Theori itu seolah menampar kehidupanku satu per satu. Ia, pertemuan terakhir- tak pernah datang dengan aba-aba, tetapi ia datang selayaknya hari biasa, -yang kemudian menjadi penyesalan yang luar biasa .       Bagian Satu, Mama. Tahun lalu, saat Ramadhan aku pulang. Ku pikir, itu akan cukup untuk menggantikan momen lebaran.   Ku pikir, tiga hari menghabiskan waktu bersama akan cukup untuk mengisi rindu. Ku tawari dia ini dan itu, namun ia tak mau. Ku turuti maunya, lalu kembali pulang -ke rantauan, sambil membawa ijin akan sebuah hobi, yang tadinya tak ia percayai.                             Andai aku tahu bahwa itu lebaran terakhir bersamanya,       ...

Jingga dan senja, adalah kolaborasi yang sempurna.

Kamu tahu jingga? Iya,  jingga adalah warna yang ceria. Warna yang melambangkan kehangatan, kenyamanan dan persahabatan. Setidaknya begitulah arti jingga bagi kebanyakan orang. Namun bagiku,  jingga lebih lengkap dari itu. . . . Dalam jingga,  aku tidak hanya melihat beribu keceriaan, namun juga sejuta senyuman. Olehnya,  orang yang memperhatikannya,  ia tarik kedalam kebahagian, ia ajarkan caranya memberikan senyuman. Perihal kehangatan dan kenyamanan,  jingga dan senja memang juara.  Warna merah yang bercampur kuning itu,  mampu menghipnotisku. Membuatku merasa nyaman dan tentram ketika menikmatinya. Sedangkan tentang tersahabatan, jingga memang sudah lama bersahabat denganku. Dari sebelum aku tahu,  apa sebenarnya jingga itu. ... Berbeda dengan jingga,  senja memiliki arti yang begitu luas bagi orang-orang. Ada yang menilainya romantis,  melankolis, juga puitis. ... Senja,  adalah penghantar dari siang menuju malam...

Goresan pena

Jakarta, 31 maret 2019. Tahun kedua di part merantau yg kedua kalinya. Haha . Part kedua.. macam film terkenal yg naik daun lalu membuat bagian² lainnya. Merantau kali ini kalau di ingat², sebenarnya saya merasa bahwa kali ini adalah merantau yg sesungguhnya. Bagaimana tidak? Saya pernah berfikir bahwa merantau kali ini akan jauh lebih mudah dari sebelumnya. Karena saya fikir saya punya tempat untuk bernaung. Tidak perlu saya memikirkan biaya kost, bagaimana atur keuangan untuk makan dan transportasi, atau hal² serupa. Karena saya punya tempat bernaung, dan saya punya tempat bergantung. Begitu pikir saya dahulu. Dan ternyata, semua jauh dari perkiraan saya. Saya lupa, bahwa dari dulu saya tidak pernah membiarkan diri saya untuk menggantungkan diri pada orang lain. Sebab saya tahu, pasti akan sakit rasanya. Dan benar saja, kejadian demi kejadian terjadi. Dan saya ditinggalkan sendiri. Dengan keadaan yg benar² saya benci, saya dibiarkan sendiri. Menjadi seorang y...